TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih tertatih-tatih di atas level Rp18.100-an pada perdagangan Jumat (30/10/2026), menunjukkan kinerja yang jauh tertinggal jika dibandingkan dengan kedigdayaan mata uang tetangga.

Berbeda nasib dengan rupiah yang bergerak sangat terbatas, mata uang ringgit Malaysia justru mencatatkan performa gemilang dengan sukses mengukuhkan tren penguatan selama 10 hari perdagangan berturut-turut.

Pergerakan impresif ini mencerminkan sentimen positif pasar yang konsisten menyelimuti mata uang lokal Malaysia sejak awal sesi pembukaan.

Baca juga: Hashim Djojohadikusumo Prediksi Rupiah Rp22.000 per dollar AS, Gubernur BI Destry Damayanti Bereaksi

Berdasarkan data perdagangan pada pukul 08.00 waktu setempat atau 07.00 WIB, nilai tukar ringgit merangkak naik ke posisi 4,0570/0625 per dollar AS, menguat tipis dari penutupan hari Kamis di level 4,0575/0620 per dollar AS.

Posisi ini sekaligus mendekati level tertinggi dalam tujuh minggu terakhir, menyamai titik pembukaan 4,0560 per dollar AS yang sempat tercatat pada 9 September 2026.

Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Dr Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menjelaskan bahwa lonjakan performa ringgit ditopang oleh pelemahan Indeks dollar AS (DXY) yang terkoreksi sebesar 0,33 persen ke level 101,854 poin.

Penurunan indeks dollar tersebut terjadi secara anomali di tengah rilis pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal ketiga 2026 yang melampaui estimasi serta kenaikan tingkat inflasi Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) September.

Baca juga: Rupiah Terus Terpuruk Kini Jadi Rp 18.200 per Dollar AS, Airlangga Yakin Tidak Tembus Rp 19.000  

Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua tahun dan 10 tahun turut mengalami penyusutan masing-masing sebesar 10 dan 8 basis poin, menjadi 4,60 persen dan 4,94 persen.

"Oleh karena itu, kami percaya pasar memperhitungkan kemungkinan bahwa Federal Reserve (Fed) dapat mengubah arah kebijakan moneternya," terang Abdul Rashid seperti dikutip dari Bernama.

Ia memproyeksikan tren positif ringgit masih akan berlanjut dalam jangka pendek seiring terbatasnya ruang pengetatan lanjutan oleh The Fed, dengan kisaran pergerakan ringgit terhadap dollar AS diprediksi berada di rentang RM4,05 hingga RM4,07 pada hari ini.

Kendati perkasa di hadapan greenback, pergerakan ringgit terhadap mata uang utama dunia lainnya terpantau bervariasi; melemah tipis terhadap poundsterling Inggris (5,4275), euro (4,5365), serta stabil di kisaran 223,6 terhadap rupiah Indonesia.

Baca juga: Mantan Karyawan Workshop di Samarinda Curi Peralatan Rugikan Ratusan Juta Rupiah

Sebaliknya, nasib berbeda dialami oleh mata uang Garuda di Tanah Air.

Di saat ringgit melesat konsisten, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan Jumat (30/10/2026) hanya mampu mencatatkan apresiasi terbatas dan masih tertahan di atas level psikologis Rp18.100-an.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka pada level Rp18.127 per dollar AS, menguat tipis 10 poin atau 0,06 persen dari penutupan sebelumnya di posisi Rp18.137 per dollar AS.

Apresiasi terbatas ini dipicu oleh keputusan The Fed menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75–4,00 persen pada FOMC Oktober 2026.

Baca juga: Rupiah Anjlok Awal Pekan Ini, Ekonom hingga Bank Indonesia Ungkap Penyebabnya

Kinerja rupiah tersebut dinilai masih jauh tertinggal jika dikomparasikan dengan stabilitas tren penguatan ringgit Malaysia.

Analis menilai pemulihan rupiah bersifat sangat fluktuatif dan terbatas, dengan rentang pergerakan hari ini diproyeksikan berada di kisaran Rp18.080 hingga Rp18.220 per dollar AS.

Faktor fundamental domestik, aliran masuk modal asing di pasar keuangan, serta dinamika sentimen global masih menjadi penentu utama apakah rupiah mampu keluar dari tekanan berat yang dalam beberapa waktu terakhir turut memicu kekhawatiran publik terhadap ketahanan ekonomi nasional. (*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.