TRIBUNNEWS.COM, MATARAM – Pengembangan industri hilir kelapa di Nusa Tenggara Barat (NTB) berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.

Pengusaha Jerry Hermawan Lo menyatakan kesiapan kelompok usahanya untuk membangun pabrik pengolahan kelapa di NTB. Investasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan, memperluas industri pengolahan, serta membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat.

Namun, realisasi investasi tersebut membutuhkan dukungan pemerintah daerah, terutama dalam memperluas perkebunan dan melakukan peremajaan tanaman kelapa untuk menjamin pasokan bahan baku industri.

Baca juga: Hilirisasi Sawit, Kakao dan Kelapa Hadapi Tantangan Pasokan dan Penciptaan Nilai Tambah

Komitmen tersebut disampaikan Jerry dalam rangkaian kegiatan penyerahan Beasiswa Kelapa 2026 kepada 100 mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram), Senin (2/11/2026).

Menurut Jerry, pembangunan pabrik di NTB merupakan bagian dari ekspansi industri pengolahan kelapa yang tengah dikembangkan kelompok usahanya.

Saat ini, kelompok usaha tersebut telah memiliki tiga pabrik kelapa. Perusahaan juga merencanakan pembangunan dua pabrik tambahan pada 2027, dengan target kapasitas pengolahan mencapai dua juta butir kelapa per hari.

Rencana itu sekaligus menunjukkan besarnya kebutuhan bahan baku yang harus dipenuhi melalui pengembangan perkebunan kelapa secara berkelanjutan.

Hilirisasi Kelapa Jadi Peluang Ekonomi NTB

Jerry menilai NTB memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu pusat industri kelapa nasional.

Menurut dia, pengembangan komoditas kelapa tidak cukup hanya mengandalkan penjualan hasil panen dalam bentuk mentah. Pengolahan menjadi produk jadi maupun setengah jadi diperlukan agar nilai ekonomi komoditas meningkat.

Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai Royal Agro Industry, yakni model usaha pertanian yang mengintegrasikan kegiatan budidaya dengan industri pengolahan.

"Dua tahun lalu saya masih berbicara tentang agribisnis. Sekarang konsepnya sudah berubah menjadi Royal Agro Industry. Setiap tanaman yang kami tanam tidak langsung dijual, tetapi diindustrikan terlebih dahulu agar memiliki nilai tambah," ujarnya.

Jerry menjelaskan, hampir seluruh bagian buah kelapa dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Sabut kelapa, misalnya, dapat diolah menjadi material bangunan seperti genteng, papan, dan bahan lantai.

Tempurung kelapa bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan arang dan karbon yang dibutuhkan berbagai sektor industri. Bahkan, produk turunannya berpotensi menjadi bahan baku untuk kebutuhan teknologi baterai.

Sementara itu, daging kelapa dapat diolah menjadi minyak goreng, santan, dan kelapa parut kering atau desiccated coconut untuk industri makanan.

Air kelapa juga memiliki peluang pasar sebagai minuman maupun bahan baku industri minuman kemasan.

"Produk turunan kelapa itu sangat banyak. Dari sabut, tempurung, daging, sampai airnya, semua bisa menjadi produk industri. Bahkan, arang tempurung kelapa sekarang banyak dicari untuk kebutuhan industri di luar negeri," kata Jerry.

Menurut dia, meningkatnya permintaan produk turunan kelapa di pasar internasional menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat industri pengolahan di dalam negeri.

Dengan hilirisasi, petani tidak hanya bergantung pada harga jual kelapa mentah, tetapi juga berpeluang memperoleh manfaat ekonomi dari berkembangnya rantai industri pengolahan.

Peremajaan Kebun Jadi Kunci Pasokan Bahan Baku

Meski memiliki potensi industri yang besar, pengembangan kelapa di NTB masih membutuhkan pembenahan dari sisi perkebunan.

Jerry menilai banyak pohon kelapa di sejumlah daerah sudah berusia tua sehingga produktivitasnya menurun.

Kondisi tersebut perlu diatasi melalui program peremajaan tanaman secara terencana, penggunaan bibit unggul, serta penerapan teknik budidaya modern.

Ia menilai ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan industri pengolahan.

Tanpa pasokan kelapa yang memadai, pembangunan pabrik berisiko tidak dapat beroperasi secara optimal.

Sebagai contoh, Jerry menyampaikan pengalaman uji coba penanaman kelapa di lahan seluas 50 hektare di Jailolo, Maluku Utara.

Dalam uji coba tersebut, pengembangan akar dilakukan melalui pengolahan lubang tanam sedalam sekitar satu meter serta penggunaan campuran tanah dan bahan organik.

Menurut Jerry, metode tersebut membantu mempercepat perkembangan akar dan memungkinkan tanaman mulai berbuah pada usia sekitar tiga tahun.

Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi referensi dalam pengembangan perkebunan kelapa produktif di NTB.

Perkebunan Kelapa Bisa Dikembangkan dengan Sistem Tumpang Sari

Selain pembangunan pabrik dan peremajaan tanaman, Jerry mengusulkan pengembangan perkebunan kelapa yang terintegrasi dengan pendidikan tinggi.

Ia mendorong kerja sama antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha untuk menyediakan lahan perkebunan sebagai tempat praktik sekaligus pengembangan kewirausahaan mahasiswa.

Salah satu skema yang diusulkan adalah penerapan sistem tumpang sari.

Dengan jarak tanam kelapa sekitar delapan meter, lahan di antara pohon dapat dimanfaatkan untuk menanam komoditas berumur pendek seperti jagung, cabai, kacang panjang, dan buncis.

Pola tersebut memungkinkan lahan menghasilkan pendapatan sebelum tanaman kelapa memasuki masa produktif.

Dengan demikian, petani maupun mahasiswa tidak harus menunggu tiga hingga lima tahun untuk memperoleh hasil ekonomi dari perkebunan kelapa.

Jerry juga mengusulkan agar hasil panen mahasiswa dihubungkan dengan pasar yang telah tersedia, termasuk kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut dia, kepastian pasar dapat membantu kegiatan pertanian berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Pengembangan model tersebut sekaligus diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

Beasiswa dan Regenerasi Petani

Pengembangan industri kelapa juga membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan di bidang teknologi, manajemen, dan kewirausahaan.

Dalam kesempatan yang sama, Yayasan JHL Merah Putih Kasih menyerahkan Beasiswa Kelapa 2026 kepada 100 mahasiswa Fakultas Pertanian Unram.

Jerry mengatakan, jumlah penerima manfaat program bantuan pendidikan yayasannya ditargetkan meningkat menjadi 2.000 orang hingga akhir 2026 dan 3.000 orang pada 2027.

Program tersebut diharapkan dapat memperluas akses pendidikan sekaligus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Rektor Unram Sukardi mengungkapkan, lebih dari 40 persen mahasiswa Unram membayar uang kuliah tunggal (UKT) antara Rp500.000 hingga Rp1 juta. Selain itu, sekitar 900 mahasiswa memperoleh fasilitas UKT nol rupiah.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.