TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Hutan Kota Teluk Akar Bergantung menjadi salah satu kawasan ruang terbuka hijau yang berada di Jalan Lingkar, Kelurahan Sukaharja, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Kawasan yang telah berdiri sejak 2004 ini memiliki luas awal sekitar 106 hektare.
Selain menjadi paru-paru kota dan daerah resapan air, hutan kota tersebut juga menjadi habitat berbagai jenis satwa.
Berdasarkan pantauan Tribunpontianak.co.id pada Kamis 5 November 2026, kawasan ini masih dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang, seperti kantor, musala, gudang, gazebo, tempat sampah, toilet hingga lampu penerangan.
Namun, beberapa fasilitas mulai mengalami kerusakan. Gertak berbahan papan kayu yang menjadi jalur akses pengunjung terlihat berlubang, patah, bahkan hancur di sejumlah titik.
Kondisi toilet juga kurang layak digunakan karena tidak tersedia air.
Petugas penjaga Hutan Kota Teluk Akar Bergantung, Mimi Kurniawan, mengatakan sejumlah bagian kawasan memang masih membutuhkan perbaikan.
Pihaknya berharap pembenahan dapat segera dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat secara bertahap.
Baca juga: Penggerebekan Bandar Sabu di Delta Pawan Ketapang, Polisi Menyita Sabu dan Uang Rp112 Juta
"Untuk saat sekarang mungkin kondisinya seperti inilah. Mungkin dalam beberapa hari atau beberapa bulan ke depan akan ada perbaikan dari pihak provinsi," ujarnya.
Mimi menjelaskan, luas kawasan hutan kota yang saat ini dikelola tercatat sekitar 91 hektare, berkurang dari luas awal sekitar 106 hektare.
Pengurangan tersebut terjadi karena sebagian lahan diketahui merupakan tanah milik masyarakat sehingga dikeluarkan dari kawasan.
Sebelumnya, Hutan Kota Teluk Akar Bergantung dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Ketapang.
Namun, pada 2023, pengelolaannya beralih ke Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK).
Pada tahun yang sama, pemerintah provinsi melakukan penataan dan perbaikan kawasan sekaligus meresmikan kembali hutan kota tersebut. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 359/LHK/2023 tertanggal 24 Juli 2023, luas kawasan ditetapkan sekitar 91 hektare.
Selain suasana alamnya, keberadaan berbagai satwa menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Mimi menyebut monyet menjadi satwa yang paling sering terlihat di kawasan tersebut.
Bahkan, jika beruntung, pengunjung juga dapat menjumpai bekantan, lutung hingga burung enggang.
Beberapa satwa lainnya seperti kukang dan trenggiling juga pernah ditemukan di kawasan hutan kota tersebut.
"Kalau satwa yang sering muncul setiap hari itu monyet. Kalau memang ada rezeki, kadang-kadang ada bekantan dan lutung. Burung enggang juga biasanya ada di sini. Kemarin kami pernah menemukan kukang, kemudian ada juga trenggiling," jelasnya saat diwawancarai Tribun Pontianak.
Ia menambahkan, pengunjung biasanya lebih ramai pada Sabtu dan Minggu. Masyarakat yang ingin menikmati suasana hutan kota juga tidak dikenakan biaya masuk alias gratis.
Mimi mengimbau pengunjung agar tetap menjaga kebersihan dan berhati-hati selama berada di kawasan hutan kota, mengingat masih terdapat berbagai jenis satwa liar, termasuk hewan berbisa.
"Terutama jaga kebersihan, kemudian harus hati-hati. Namanya di dalam hutan, kita tidak tahu karena ada juga hewan-hewan berbisa," pesannya.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.